info
Thank you for visiting my theme! Replace this with your message to visitors.

BERITA

Kembali Ke Semua Berita
 

Perayaan Hari Saraswati Diluar Bali

Di Posting Pada Tanggal : 2014-08-03 00:00:00  | Dilihat : 416 Kali

Pengertian :

Saraswati adalah nama dewi, Sakti dewi Brahma dalam konteks ini sakti berarti istri. Dewi Saraswati di yakini oleh Umat Hindu sebagai manifestasi Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan. Dalam berbagai lontar bali disebutkan “Hyang Hangning Pangewruh” maksudnya adalah Hyangnya pengetahuan. Sedangkan di India umat hindu mewujudkan Dewi saraswati sebagai “Dewi yang amat cantik bertangan empat memegang : Wina, Pustaka, Ganitri dan Bunga teratai. Berada di atas angsa dan disebelahnya ada burung merak”.

Dewi saraswati di puja dalam dalam wujud “Murti Puja”, sedangkan di Indonesia di puja dalam wujud “Hari Raya atau Rerahinan”. Perayaan Saraswati mengambil dua wuku yaitu akhir wuku watugunung dan awal wuku Sinta. Hal ini mengandung makna sebagai peringatan sebagai manusia untuk menompang hidupnya di perlukan ilmu pengetahuan yang di dapatkan dari  Sang Hyang saraswati. Oleh karena itulah pada akhirnya hari raya saraswati adalah untuk pemujaan Sang Hyang Widhi dalam manisfestasi nya sebagai dewi saraswati.

Pelaksanaan :

Hari Saraswati diperingati setiap hari sabtu Umanis Watugunung, penangalan masehi 23 April 2011 dan besoknya hari minggu paing Sinta adalah hari Banyu Pinaruh yaitu kelanjutan dari perayaan Saraswati. Menurut lontar Sundarigama tentang brata Saraswati, pemujaan dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari tidak di perkenankan membaca dan menulis terutama menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Pada hari sabtu Wuku Watugunung itu, semua pustaka terutama Weda dan sastra-sastra agama di kumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi Saraswati. Ditempat pustaka yang telah ditata rapi diaturkan banten Saraswati, Daksina, beras wangi dan dilenkapi dengan air kumkuman yaitu air yang diisi kembang dan wangi-wangian sebagai persembahan inti. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati secara penuh, tidak membaca dan menulis di lakukan selama 24 jam. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa, setelah tengah hari dapat membaca dan menulis. Bahkan dianjurkan melakukan malam sastra dan sambang semadi.

Pada hari minggu paing Sinta, melakukan upacara Banyu Pinaruh yaitu mengaturkan nasi Pradnyan, air kumkuman dan loloh atau jamu sad rasa. Pada puncak acara, semua sarana upacara itu dimakan dan diminum. Upacara ini ditutup dengan metirtha yang dimaknai sebagai lambang meminum air suci Ilmu Pengetahuan.

Filosofi dan Mitologi :

Upacara dan Upakara dalam agama Hindu mengandung makna filosofis sebagai penjabaran dari ajaran Agama Hindu. Secara etimologi, kata Saraswati berasal dari bahasa sangsekerta yakni Saras berarti “sesuatu yang mengalir” dan wati adalah “memiliki”. Jadi kata Saraswati mengandung arti  sesuatu yang mengalir adalah bagian dari makna ucapan. Demikian juga ilmu pengetahuan sifatnya mengalir terus menerus tiada henti-hentinya, ibarat sumur yang airnya tiada pernah habis meskipun di timba setiap hari untuk memberikan hidup pada umat manusia.

Simbul dan makna yang terkait dengan Dewi Saraswati adalah :

  1. Cakepan atau daun lontar, merupakan lambang ilmu pengetahuan.
  2. Genitri, itu lambang bahwa ilmu pengetahuan tiada habis-habisnya dan genitri juga lambang atau alat untuk melakukan japa yaitu aktivittas spritual menyebut nama Tuhan berulang-ulang.
  3. Wina, yaitu alat musik , di bali disebut rebab yaitu maksudnya ilmu pengetahuan itu mengandung keindahan atau estetika yang sangat tinggi.
  4. Bunga Padma, adalah lambang buana Agung stana Tuhan Yang Maha Esa. Ini berarti ilmupengetahuan yang suci itu memiliki Bhuana Alit dan Bhuana Agung.
  5. Angsa , adalah jenis binatang unggas yang memiliki sifat-siffat yang baik yaitu tidak suka berkelahi dan suka hidup harmonis. Angsa juga memiliki kkemamppuan memilih makanan dari tumpukan yang bercampur dengan air kotor. Demikian hendaknya, orang yang telah berhasil menguasai ilmu pengetahuan, mereka akan menjadi bijaksana karena memiliki kemampuan wiweka yaitu kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk dengan yang salah.
  6. Burung Merak, adalah lambang kewibawaan. Seseorang bila telah mampu menguasaiilmmu pengetahuan, merekelah yang akan mendapatkan kewibawaan.

 

Pelaksanaan Hari Raya Saraswati Bali

Jelas sekali karena cakupan masih dominan pemeluk Hindunya, dan juga karena telah menjadi budaya sehingga pelaksanaan hari raya ini  mencerminkan suatu nilai yang sangat khusus. Perayaan melibatkan sekolah umum selain pelaksanaan intinya yang secara umum oleh griya-griya Ida peranda di Bali khususnya di Denpasar, membuka semacam open house selama 2 hari sabtu dan minggu. Masyarakat pelajar khususnya akan berbondong-bondong datang ke griya untuk mendapat tirta & banten Saraswati dan besoknya pada hari Banyu Pinaruh mereka datang kembali untuk memperoleh tirthha kumkuman, sembahyang dan di tututp dengan mereka mendapat nasi Pradnyan dan loloh untuk jamu. Kenapa demikian? karena pemujaan Sang Hyang Saraswati di Bali tidak dibuat pelinggih khusus. Wujud aksara Ha, Na,Ca, Ra,Ka...dst itulah sebagai wujud stananya. Dan itu sudah dilukiskan secara niskala di Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Sedangkan wujud pemujaan berupa patung Dewi Saraswati itu berasal dari India..

Mengingat diluar Bali Hindu menjadi bagian yang Minorittas, mari melalui kelompok yaitu tempek, banjar pengempon pura memikirkan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan agar kedepan generasi penerus kita tidak kehilangan suluh atau pijakan yang sangat prinsip seperti makna Hari Raya Saraswati ini.

Jangan sampai terjadi seperti yang di ungkapkan dalam Kekawin Niti Sastra bahwa yang tanpa ilmu pengetahuan, amat tidak menarik biarpun mereka mudah usia, sifatnya bagus dan keturunan bangsawan. Orang demikian ibarat bunga merah menyalah tetapi tanpa bau harum sama sekali.

Demikian tujuan pemujaan Dewi Saraswati. Bila pemujaan Dewi Saraswati dapat tercapai maka terhindarlah kita dari godaan penyakit, kelakuan jahat dan buruk.

Semua perumpamaan itu adalah suatu methoda seni sastra agama untuk mendatangkan kehalusan budi. Agama mengarahkan hidup, ilmu pengetahuan memudahkan hidup. Oleh kerena itu, memuja Sang Hyang Saraswati tiada lain adalah Memuja Sang Hyang Widhi Tuhan Yang Maha Esa dalam aspeknya sebagai sumber ilmu pengetahuan suci Weda.

 Oleh:  Anak Agung Gede Asmara