info
Thank you for visiting my theme! Replace this with your message to visitors.

BERITA

Kembali Ke Semua Berita
 

Bagaimana Seharusnya Perayaan Hari Nyepi Di Suatu Wilayah

Di Posting Pada Tanggal : 2014-08-03 00:00:00  | Dilihat : 399 Kali

Tawur Kesanga dan Pawai Ogoh-Ogoh dalam rangka Perayaan Hari Raya Nyepi  Tahun Baru Saka,  diTugu Monas Provinsi DKI Jakarta 2011

A.            PENGERTIAN

Mewujudkan ketentraman, kedamaian dan kesejahteraan Dunia adalah menjadi tujuan Umat Hindu yang tertuang dalam tujuan Agama yaitu ” Moksartham Jagatdhita Ya Ca Iti Dharma” yang dijabarkan melalui empat jalan utama ” Catur Marga” dan realisasi pada kehidupan nyata diwujudkan dalam bentuk ” Panca Yadnya” yaitu lima pengorbanan suci secara tradisi sering dikenal dengan Upacara. Sesungguhnya Umat Hindu telah melakukan Yadnya pada kehidupan sehari-hari dalam bentuk non Upacara. Beryadnya tidaklah hanya mengadakan upacara keagamaan saja akan tetapi menyangkut hal yang lebih luas dari itu. Dituntut pengorbanan yang tulus dan ikhlas, pengorbanan berdasarkan dharma, untuk terciptanya kedamaian dan kebahagiaan lahir bathin yang tertinggi. Dimanapun umat manusia dimuka bumi ini pasti mendambakan kebahagiaan tertinggi, tidak hanya untuk diri sendiri (Moksa) tetapi juga untuk alam beserta isinya (Jagaddhita). Kabahagiaan diri sendiri tidak ada artinya, jika lingkungan, desa, wilayah, negara lebih luas lagi dunia dimana manusia memijakkan kakinya tidak aman dan damai.

Pengertian Bhuta  adalah unsur-unsur dari Panca Mahabhuta yang terdiri atas Tanah (Pertiwi),  Air(Apah), Api (Teja), Udara (Bayu), dan Akasa ( Awang, Ruang). Menurut  para  ahli theosofi yang menyebabkan wujud bhuta ini berubah, tergantung kondisi dan keadaan antara lain lembab, panas, kering, dingin dan dalam keadaan tidak ada apa-apa. Sesungguhnya dibalik semua wujud itu, bhuta tidak lain adalah energi atau materi yang suatu waktu karena pengaruh kondisi panas, dingin, lembab dan kering bhuta berubah sifat menjadi baik dan buruk. Apabila keseimbangan bhuta terusik, dapat menimbulkan bencana alam seperti banjir, gempa, badai tofan dan berdampak menjadi musibah bagi umat manusia serta mahluk lain di Bumi ini.

Sifat buruk yang disebut krodanya bhuta inilah yang harus dikendalikan oleh umat manusia agar dunia yang telah aman dan sejahtera jangan hancur & porak poranda dan akhirnya musnah. Disinilah tantangan  bagi manusia sebagai mahluk yang mulia dibandingkan mahluk lain, harus berani dan mau berkorban untuk mengendalikan bhuta agar tetap baik atau seimbang tidak berubah menjadi ganas dan kroda. Pengorbanan manusia secara tulus ikhlas kepada bhuta inilah yang disebut  BHUTA YADNYA.

 

Upacara bhuta yadnya ini menurut waktu pelaksanaannya dapat dibedakan atas Nitya-Kala yaitu persembahan kepada bhuta yang dilakukan sehari-hari seperti banten saiban atau ngejot, mesegeh dan Naimitika-Kala adalah upacara yang dilakukan pada hari-hari yang telah ditentukan dan mencakup lingkungan yang lebih luas yaitu desa, daerah atau wilayah provinsi dan negara.

 

B.            DASAR SASTRA PELAKSANAAN TAWUR & TAHUN BARU SAKA

Perayaan Nyepi tahun Baru Saka,  dilaksanakan pada kisaran bulan Maret setiap tahunnya yang dirayakan secara Nasional sesuai Pedoman Upacara Hari Raya Nyepi, Ketetapan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. Selain sebagai wujud pengamalan ajaran Agama, juga memberi makna terhadap eksitensi umat Hindu ditengah-tengah Bangsa yang pluralis multikultural dengan berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara melalui kehidupan sosial keagamaan.

Menyikapi realita kehidupan sosial masyarakat yang masih memprihatinkan serta pemanasan Global secara makro, sebagai ekses dari ketidakdisiplinan manusia mengelola alam & lingkungan dimana mereka tinggal, sehingga menimbulkan berbagai macam bencana menimpa silih berganti. Disisi lain ketegangan, kekerasan, tindakan anarkis, konflik horizontal masih mewarnai beberapa  aspek kehidupan Nasional, sementara kemiskinan belum  dapat dientaskan baik secara mikro maupun makro.

Disinilah makna dari sebuah pelaksanaan Tawur Kesanga dan perayaan Nyepi dalam menyambut Tahun Baru Saka adalah wujud dari harmonisasi antara Manusia dengan mahluk lain dan alam materi ciptaan-Nya yang  dikenal dengan sebutan Panca Maha Bhuta (Pertiwi, Apah, Bayu, Teja, Akasa). Keseimbangan Bhuana Agung (Makrokosmos) yaitu jagadraya , alam semesta ini dengan Bhuana Alit (Mikrokosmos) harus tetap dijaga oleh manusia itu sendiri. Makna tawur kesanga ini sangat jelas sebagaimana terkutip pada lontar Siwa Yama Purana Tattwa & Susastra  Sutasoma karya Mpu Tan Tular sebagai berikut:

1.      ” Yan patemoning sasih kesanga, wenang ta sira gumaweaken uti. Tawur kesanga ngaraniya, ring catus pataning desa. Gumaweaken perang sata telung parahatang, dungulaning guluring uraha rah sira katur ring Sang Hyang Kala Raja,  Hyang Dasa Bumi. Mangkane prasida kertha raharja ikeng rat. Yan tan samangkana rug jagad raya, sawitaning Bhuta manjing ring angga sasirani manusa”.                                                                   

Maksudnya:

Setiap ketemu dengan bulan sembilan (bulan Maret Masehi), manusia wajib membuat sedekah yang dinamakan Tawur kesanga diperempatan suatu desa, wilayah atau daerah. Mengorbankan darah hewan yang dipersembahkan sebagai upah pada Panca Maha Bhuta yaitu kekuatan alam semesta ini yang disebut Hyang Kala Raja. Itu yang membuat tentram dan sejahtera, kalau tidak demikian kacau tatanan keseimbangan jagadraya atau alam semesta ini. Karena pengaruh Bhuta (kekuatan negatif) alam ini yang memasuki pikiran manusia yang berdampak pada hilangnya cinta kasih, rasa prikemanusiaan dan berubah menjadi keserakahan, kekejaman serta tindakan yang bersifat anarkis.

2.      Tahun Baru Saka adalah tarikh atau penanggalan yang dipergunakan oleh umat Hindu Dharma sejak permulaan abad  ke VI, yaitu saka kala yang ditetapkan berlakunya sejak penobatan Raja Kaniska I dari Dinasti Kushana yang memerintah kerajaan Mathura di India pada tahun 78 Masehi.

Semenjak penobatannya menjadi raja ditandai oleh perdamaian dan mantapnya stabilitas dibidang  politik dan keamanan serta berkembangnya toleransi dan kerukunan hidup antar umat beragama yang sebelumnya  tidak pernah terjadi. Kondisi  seperti ini terjadi juga di Indonesia pada jamannya Mpu Tantular sebagaimana diungkapkan dalam karya sastranya ” Pustaka Sutasoma ” dengan sloka : ” Bhineka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa”, sebagai pencerminan keadaan Nusantara kala itu yang sama keadaannya dengan jamannya Raja Kaniska I di India. Tahun Baru Saka dan Nyepi setiap tahun ditandai oleh Tilem Kesanga atau Caitra Masa sebagai siklus terakhir untuk beralih ke Tahun Baru Saka. Tilem Sasih Kesanga tahun 2011 jatuh pada 4 Maret, besoknya tanggal 5 Maret adalah Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1933. Dengan demikian Hari Nyepi  adalah perayaan Tahun Baru Saka yaitu penanggal apisan sasih Kesanga atau  Eka Suklapaksa sasih Waisaka.

Untuk dokumen lengkap download disini